Pemerintah memacu belanja negara untuk mendorong ekonomi dan menaikkan penerimaan
JAKARTA. Kendati kinerja penerimaan negara hingga 31 Agustus 2017 masih seret, namun Kementerian Keuangan memastikan tidak akan menghemat anggaran lagi di akhir tahun ini. Bahkan belanja negara akan dipacu lebih cepat untuk menggerakkan perekonomian nasional.
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan bahwa pemerintah akan terus memacu belanja negara. Dia berharap belanja negara yang kian kencang akan mendorong penerimaan pajak. “Dia bisa balik ke sana (pajak) lagi kan. Belanja ini diarahkan positif. Kalau dia bisa meyakinkan pasar kemudian iklim lebih baik tentunya pajak bisa naik lagi. Jadi bisa saling kait mengkait, jangan pesimistis,” tuturnya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/9).
Menurut Askolani, agar belanja tidak jebol, pihaknya akan melakukan evaluasi kinerja penerimaan & belanja per bulan. Evaluasi per bulan dilakukan untuk mengamankan target defisit anggaran tahun ini yang sebesar 2,92%, tidak terlewati.
Dengan evaluasi itu, Kemenkeu dapat memperkirakan kecepatan realisasi belanja. Dengan begitu maka belanja yang sifatnya efektif juga akan didorong “Tidak (melakukan penghematan), tetap akan dorong apalagi belanja yang efektif,” ujarnya.
Catatan Ditjen Pajak, realisasi penerimaan pajak hingga Agustus’17 sebesar Rp 685,6 triliun. Jumlah itu tumbuh 10,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun realisasi itu hanya 53,5% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang sebesar Rp 1.283,57 triliun.
Walau realisasi pajak sampai Agustus’17 masih minim, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis penerimaan pajak akan melonjak pada 4 bulan terakhir tahun 2017. Jajarannya akan menyisir sumber potensi pajak dari kelanjutan data amnesti pajak maupun data pihak ketiga lainnya.
“Kita akan lihat data sesudah tax amnesty yang ada indikasi potensi penerimaan yang bisa ditingkatkan. Semester II ini, belanja pemerintah akan meningkat sangat tajam, dan dari belanja itu ada unsur penerimaan pajaknya cukup besar. Jadi penerimaan perpajakan bisa meningkat dari situ,” ujar Sri Mulyani.
Efek terbatas
Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono sepakat dengan langkah pemerintah dalam hal memacu belanja. Sebab menurutnya belanja pemerintah adalah peluru terakhir untuk menstimulus perekonomian dari jalur fiskal. “Ini menjadi tandem bagi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan dari 4,75% ke 4,5%. Inilah yang disebut policy mix,” ujar Tony.
Chief Economist SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) Eric Sugandi bilang, kontribusi langsung belanja pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya sekitar 7%-8%. Namun, belanja pemerintah bisa menimbulkan efek berganda bagi konsumsi rumah tangga & investasi, sehingga penerimaan perpajakan bisa naik.
“Di sisa empat bulan ini, menggenjot pengeluaran pemerintah dampaknya tetap akan positif ke pertumbuhan ekonomi dan perpajakan, tapi tidak banyak,” kata Eric. Sedangkan efek lanjutan bakal terasa hingga tahun depan.
Sumber: Ortax